Kehidupan Rumahku…

AKU PASTI BISA

Posted in Uncategorized by putrisiazahra on March 2, 2015

Sepertinya rumah tidak akan pernah rapi jika kedua anakku sedang berada di rumah. Ada-ada saja kegiatan yang mereka lakukan hingga membuatku geleng kepala. Mengeluarkan semua isi lemari pakaian, lemari buku. lemari dapur, bok mainan,  bahkan bawang merah dan bawang putih pun ikut bermain bersama keduanya. Tidak akan pernah ada habisnya.

Alhasil, rumah kecilku ini tidak ada rapinya. Semua barang tercecer dimana-mana. Baju, buku, piring, wajan, tergeletak begitu saja. Ya, tergeletak dimana-mana.

laa taghdhob

Apalagi jika ditambah dengan kedatangan tamu yang tiba-tiba, rumah yang masih berantakan dengan barang yang tercecer dimana-mana  akan membuat suasana tidak nyaman. Sangat tidak nyaman.

Kondisi ini yang biasanya membuat emosiku naik ke ubun-ubun, berteriak, dan marah-marah. Marah-marah pada dua batita yang bahkan belum mengerti apa itu perbedaan antara salah dan benar. Marah-marah pada dua sosok mungil yang masih suci. Marah-marah yang sungguh tidak ada artinya.

Berfungsikah marah-ku ini?

(more…)

Pendidikan Berkarakter itu…

Posted in pendidikan anak islam by putrisiazahra on January 7, 2015

Di tengah gembar-gembor ‘pendidikan berbasis karakter’, rupanya sudah banyak orang bahkan instansi pendidikan yang latah dengan istilah tersebut. Saat ini kita bisa dengan mudah mendapati sekolah dan pondok pesantren yang menyematkan kata ‘pendidikan berbasis karakter’ untuk menarik minat calon murid. Ada pula istilah manajemen sekolah berbasis karakter, kemudian diklat pendidik berkarakter, bangsa berkarakter, pemimpin berkarakter, dan masih banyak lagi ‘karakter-karakter’ lain yang jika digunakan seolah mampu menaikkan mutu dari penggunanya. Tren pendidikan berbasis karakter ini terlahir dari kebutuhan para orangtua yang tengah mencari metode terbaik dalam mendidik anaknya dengan harapan tidak sekedar pintar tapi juga mempunyai karakter.


Mendapatkan karunia berupa seorang anak bagaikan mendapat ‘proyek’ luar biasa. Bisa disebut ‘proyek’ karena memiliki anak adalah suatu pekerjaan yang harus digarap dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Kalau proyek lain datangnya dari atasan atau bos, maka proyek mendidik anak ini datang dari Sang pencipta makhluk dan alam semesta. Seperti halnya sebuah proyek yang tergantung pada pelaksananya, maka sama halnya dengan seorang anak yang bisa menjadi Nasrani atau Majusi dengan sebab orangtuanya yang tidak beriman. Kita tentu tidak bisa berpangku tangan dengan mengatasnamakan takdir, ‘toh kalau anak kita ditakdirkan menjadi anak sholeh pasti dia akan tumbuh menjadi anak sholeh’. Pernyataan seperti itu tentu salah besar dan hanya keluar dari lisan orangtua yang frustasi dan putus asa. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha, maka kita tidak boleh menyia-nyiakannya.
(more…)