Kehidupan Rumahku…

“Pembagian Waktu-waktu Belajar..”

Aku pernah bertanya kepada salah seorang guruku yang mulia Ustadz Saifudin Hakim semoga Allah menjaga dan meridhoinya. Waktu itu aku bertanya setelah kami melaksanakan ujian tengah semester Baca Kitab yang pertanyaanya itu kutulis di lembar jawabanku.

Aku bertanya
“Beri kami contoh real tentang manajemen waktu. Misalnya tidur berapa jam lalu jam berapa harus muroja’ah, jam berapa belajar kuliah, sebagai conoth agar bisa ditur dan diterapkan ?”

Maka Ustadz menjawab pertanyaan yang kuajukan adalah sebuah pertanyaan yang sangat-sangat aneh. Dan beliau menjawab dengan sebuah kalimat yang sangat-sangat dalam maknanya. “ ketika teman-teman kita tidak pernah menanyakan bagaimanan cara membagi waktu antara kuliah dengan pacaran, antara kuliah dengan main bola, kuliah dengan naik gunung, kuliah dengan rapat, kuliah dengan main band, kuliah dengan demonstrasi. Mereka tidak pernah menanyakan hal seperti itu dan buktinya mereka masih bisa menjalankan kedua-keduanya. Apa maknanya? Maknanya sungguh sangat dalam, ketika teman-teman kita bisa membagi waktu antara kuliah dengan hal yang itu maksiat mereka tidak pernah mengeluh mengapa kita sering mengeluh membagi waktu dengan ketaatan padahal itu adalah hal yang sangat utama yaitu menuntuut ilmu syar’i. Oleh kerena itu beliau mengatakan pertanyaan ini adalah pertanyaan yang aneh. Ketika teman-teman kita bisa membagi waktu antara kuliah dengan kemaksiatan mengapa kita tidak bisa membagi waktu antara kuliah dengan ketaatan?Oleh karena itu renungkanlah hal ini niscaya tidak muncul lagi pertanyaan seperti ini.” Beliau melanjutkan perkataannya “Apa yang kita kerjakan dari tholabul ‘ilmi, hasil apapun yang kita akan raih itu sebanding dengan usaha yang kita keluarkan dan sejauh apa target yang kita harapkan. Kalau hanya sekedar ingin kenal bahasa Arab itu akan berbeda dengan orang yang benar-benar ingin menguasai bahasa Arab dan berbeda pula hasil yang akan diraih.”
Hal ini membuatku terkejut dan berkaca diri. Apa saja yang kulakukan selama ini? Membuang-buang waktu ! Maka yang akan kulakukan sekarang adalah “membagi waktu-waktu belajarku”
Berikut adalah sebuah nasehat yang sangat indah dari seorang ulama besar Ibnul Qayyim Al-Jauziyah kepada anaknya dalam pembagian waktu belajar. Diambil dari kitab beliau yang berjudul Luftatu ‘l-Kabad fi Nashihati ‘l-Walad. Beliau berkata:
Apabila engkau kebetulan telah mengulang-ulang pelajaranmu sampai penghujung waktu duha,setelah itu kerjakanlah sholat dhuha sebanyak delapan rakaat. Berikutnya sibukkan dirimu dengan menelaah dan menulis sampai waktu Ashar tiba. Setelah mengerjakan sholat Ashar, belajarlah kembali sampai menjelang sholat Maghrib. Setelah mengerjakan sholat Maghrib, kerjakanlah sholat dua rakaat dengan membaca dua juz Al-Qur;an. Dan setelah mengerjakan sholat maghrib, kembali belajarlah.
Berikutnya, tidurlah dengan berbaring pada sisi kanan tubuhmu. Bacalah tasbih, tahmid dan takbir sebanyak tiga puluh kali. Selajutnya bacalah “Ya Alloh, jagalah aku dari adzab-Mu pada hari ketika Engkau mengumpulkan para hamba-Mu”
Apabila engkau terbangun, mengertilah bahwa rohanimu telah mengambil jatahnya. Oleh karena itu bangunlah untuk berwudhu dan sholatlah semampumu di tengah kegelapan malam. Awalilah sholatmu itu dengan mengerjakan sholat dua rakaat yang ringan. Setelah itu kerjakanlah sholat dua rakaat dengan memmbaca dua juz dari Al-Qur’an. Setelah itu kembali belajarlah. Yang demikian itu, karena belajar adalah lebih utama jika dibandingkan dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah yang lain.

Walaupun aku belum bisa mengerjakan sholat dua rakaat dengan membaca dua juz dalam Al-Qur’an, belajar sepanjang waktuku, sholat dhuha 8 rakaat maka tolonglah hambamu ini Ya Allah dalam mengamalkan nasihat guru-guruku yang mulia ini walaupun hanya sedikit. Jadikan aku seperti mereka, agar aku dapat mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi ini yang Engkau berikan padaku…
Ingatkan aku agar selalu menjaga lisanku…
Menjaga amal perbuatanku agar tidak dzolim pada saudaraku..
Ya Alloh, cukuplah engkau sebagai penolongku. Tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Dia. Kepada-NYA aku bertawakal dan Dia adalah pemilik Al-‘Arsy yang agung..

Semangatlah diriku yang haus akan ilmu dan janganlah engkau lupa dalam mengamalkan ilmu yang telah Engkau dapatkan…
Semangatlah wahai diriku yang selalu mengharpakan ridho dan mengharapkan pertemuan denganNYA di surga kelak disertai dengan melihat wajah-NYA yang mulia..
Semangatlah wahai diriku….
Semangatlah…
Bersemangatlah dengan apa-apa yang bermanfaat untukmu, mintalah pertolongan Alloh dan janganlah malas.
Ingatlah selalu barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil. ^^

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Hamba Alloh said, on January 7, 2010 at 3:15 am

    Masyaa Alloh ukhty,sungguh tulisan anti jga membuat ana berkaca diri..
    Semga Alloh beri kita kmudahan..
    Amin..

  2. adiputra said, on February 19, 2010 at 12:12 pm

    wah,,jadi inget masa lalu,,dulu sempet terkordinir waktu n kegiatan…

    tapi sekarang melorot….

    makasih udah ingetin Bu…

  3. putrisiazahra said, on February 22, 2010 at 2:15 am

    semoga bermanfaat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: