Kehidupan Rumahku…

Anakku Sundulan…

Posted in bermutu, ilmu syar'i, pendidikan anak islam, sundulan by putrisiazahra on March 2, 2015

 Senang itu, ketika engkau melihat anak-anakmu sedang akur bermain, tersenyum bersama, belajar bersama, makan pun bersama-sama. Nikmatnya…

 dan

 saat itu, dunia dan isinya pun serasa sudah kupunya.

 

Usia 3-4 tahun menurut kebanyakan orang adalah usia yang ideal bagi anak untuk mempunyai adik. Hal ini dikarenakan pada rentang usia ini kehadiran adik akan disambut dengan baik oleh kakak. Kakak selama 3 – 4 tahun telah cukup membangun fondasi bonding dengan orang tua. Ia tidak merasa terancam dengan hadirnya adik. Kakak bisa menempatkan diri sebagai pembimbing adik yang baik. Kakak pula bisa menjadi pembantu yang paling handal jika dimintai tolong untuk adiknya.

Namun, bagaimana jika Allah berkehendak lain dan kakak mendapatkan adik pada rentang umur yang cukup berdekatan? Orang jawa menyebutnyan “sundulan”. Kebanyakan  orang tua takut karena tidak sanggup mendidik dua buah hatinya dengan didikan yang cukup baik. Takut akan perhatian dan kesabarannya yang terbatas. Takut jika ia gagal dalam menjadi orang tua yang ideal. Takut akan biaya pendidikan yang akan dikeluarkan. Takut jika anak-anak ini sering bertengkar dan masih banyak ketakutan-ketakutan lainnya.

IMG-20140407-01069

  1. Anak, Sebuah Nikmat Besar

Allah ta’ala berfirman :

øŒÎ)ur šc©Œr’s? öNä3š/u‘ ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯Ry‰ƒÎ—V{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) ’Î1#x‹tã ӉƒÏ‰t±s9 ÇÐÈ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS.Ibrahim :7)

Dan nikmat yang paling agung dalam kehidupan ini adalah dikaruniai anak. Memiliki anak merupakan karunia dan hadiah dari Allah.  Allah berfirman :

°! ہù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 ß,è=øƒs† $tB âä!$t±o„ 4 Ü=pku‰ `yJÏ9 âä!$t±o„ $ZW»tRÎ) Ü=ygtƒur `yJÏ9 âä!$t±o„ u‘qä.—%!$# ÇÍÒÈ ÷rr& öNßgã_Íirt“ム$ZR#tø.èŒ $ZW»tRÎ)ur ( ã@yèøgs†ur `tB âä!$t±o„ $¸J‹É)tã 4 ¼çm¯RÎ) ÒOŠÎ=tæ ֍ƒÏ‰s% ÇÎÉÈ

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dia menciptakan apa yang dia kehendaki. dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang dia kehendaki,. Atau dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan dia menjadikan mandul siapa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.(QS. Asy-Syuura : 49-50)

Ayolah, jangan terlalu memikirkan ketakutan-ketakutan itu. Tetapkan tujuan,agar kakak dan adik menjadi anak-anak yang sholih, anak-anak yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan anak-anak yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dan ini adalah tujuan mulia dari mempunyai anak menurut syari’at islam.

(more…)

Pendidikan Berkarakter itu…

Posted in pendidikan anak islam by putrisiazahra on January 7, 2015

Di tengah gembar-gembor ‘pendidikan berbasis karakter’, rupanya sudah banyak orang bahkan instansi pendidikan yang latah dengan istilah tersebut. Saat ini kita bisa dengan mudah mendapati sekolah dan pondok pesantren yang menyematkan kata ‘pendidikan berbasis karakter’ untuk menarik minat calon murid. Ada pula istilah manajemen sekolah berbasis karakter, kemudian diklat pendidik berkarakter, bangsa berkarakter, pemimpin berkarakter, dan masih banyak lagi ‘karakter-karakter’ lain yang jika digunakan seolah mampu menaikkan mutu dari penggunanya. Tren pendidikan berbasis karakter ini terlahir dari kebutuhan para orangtua yang tengah mencari metode terbaik dalam mendidik anaknya dengan harapan tidak sekedar pintar tapi juga mempunyai karakter.


Mendapatkan karunia berupa seorang anak bagaikan mendapat ‘proyek’ luar biasa. Bisa disebut ‘proyek’ karena memiliki anak adalah suatu pekerjaan yang harus digarap dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Kalau proyek lain datangnya dari atasan atau bos, maka proyek mendidik anak ini datang dari Sang pencipta makhluk dan alam semesta. Seperti halnya sebuah proyek yang tergantung pada pelaksananya, maka sama halnya dengan seorang anak yang bisa menjadi Nasrani atau Majusi dengan sebab orangtuanya yang tidak beriman. Kita tentu tidak bisa berpangku tangan dengan mengatasnamakan takdir, ‘toh kalau anak kita ditakdirkan menjadi anak sholeh pasti dia akan tumbuh menjadi anak sholeh’. Pernyataan seperti itu tentu salah besar dan hanya keluar dari lisan orangtua yang frustasi dan putus asa. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha, maka kita tidak boleh menyia-nyiakannya.
(more…)