Kehidupan Rumahku…

NASIHAT KEPADA PARA PEMUDA THULABUL ‘ILMI

Posted in Nasehat by putrisiazahra on April 15, 2010

Wahai saudariku, persilisihan di antara ahlulsunnah di negri ini membuat para penuntut ilmu pemula binggung untuk bersikap. Disatu sisi golongan A menboikot golongn b, disisi yang lain saling tadhzir, kenapa ngaji di sana? Itu kan ustadz hizbi karena ngisi di masjid yang sering di pakai oleh orang-orang hizbi, jilbab akhwatnya tidak warna hitam, mereka bukan salafy, mereka tuh salafi’i (salafi imitasi) atau komentar-komentar semacamnya. Segala puji bagi Allah disemua keadaan.
Saudariku, sebagai thulabul ilmi (para peenuntut ilmu) hendaknya kita dapat menjaga akhlak dan muamalah kita kepada saudara semuslim kita. Melakukan tadzir dan hajr mempunyai faedah-faedah tertentu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang jika faedah keduanya tidak terpenuhi maka kita dilarang untuk melakukan hajr ataupun tadzir. Maka kita wajib dalam menjawab salam yang diberikan oleh saudari kita walaupun kita sedang meng-hajr saudari kita yang lainnya yang seharusnya tidak kita hajr karena memang tidak cukup padanya syarat-syarat yang mengharuskan dirinya untuk dihajr. Bukankah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih bisa tersenyum kepada kafir Quraisy ketika mereka menyakitinya? Dan tidak ada rasa dendam sedikit pun dihati beliau karena perlakuan mereka. Sesungguhnya cukuplah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan orang-orang setelahnya yang mengikuti jalan salafus shaleh sebagai suri dan tauladan kita.
Artikel ini merupakan salah satu usaha kami dalam menyebarkan dakwah ahlulsunnah kepada seluruh penuntut ilmu syar’i agar memiliki sikap yang benar dalam menyikapi banyaknya fitnah dan syubhat yang telah teersebar diantara ahlulsunnah. Beberapa sikap yang kami tulis ini kami rangkum dari sebuah buku kecil yang sangat besar faedahnya yang berjudul “Nasehat mengenai perkara-perkara yang wajib diperhatikan ketika terjadi perbedaan pendapat di antara ahlulsunnah dan faedah-faedah boikot dan membuat bantahan terhadap orang-orang yang menyimpang ” karya Syekh Ibrahim bin ‘aamir ar-rahiily.
Maka sikap-sikap yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu menurut beliau saat terjadi perberdaan pendapat diantara ahlulsunnah adalah:
1.Seorang muslim itu memiliki perhatian untuk memperbaiki dirinya sendiri dan berupaya untuk menyelamatkan dirinya dan berupaya untuk menjauhkan dirnya dari sebab kebinasaan sebelum menyibukkan diri dengan memperbaiki orang lain.
Dalilnya adalah firman Allah subhaanahu wa ta’ala dalam surat Al-‘Ashri 1-3 yang artinya
demi massa sesungguhnya manusi itu berada dalam kerugian yang besar. Kecuali manusia yang beriman dan beramal shoolih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menatapi kebenaran.
Maka dalam firman Allah tersebut telah Allah jelaskan bahwa seluruh manusia akan mengalami kerugian yang sangat besar. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh artinya memperbaiki diri sendiri. Dan saling mewasiatkan untuk menaati kebenaran dan saling mewasiati untuk bersabar, hal ini bearti mengurusi atau memperbaiki orang lain. Maka dalam surat ini, Allah mendahulukan kata beriman dan beramal sholeh untuk dilakukan manusia baru setelah itu saling nasihat menasihati supaya menaati kebenaran. Maka manusia yang terbebas dari kerugian adalah manusia yang memperbaiki dirinya dan memperbaiki orang lain. Maka manusia yang bagaimanakah yang lebih baik perkataanya? Hal ini dijawab Allah dalam surat Fusilat ayat 33 yang artinya “siapakah orang yang lebih baik perkataanya? (tidak ada orang yang lebih baik perkataanya) dibandingkan dengan orang yang mengajak manusia kepada agama Allah dan beramal sholeh dan berkata aku hanya bagian dari kaum muslimin ”. Maka dari ayat ini Allah memuji orang yang ada pada dirinya 3 hal yaitu :
Mengajak manusia pada agama Allah (berdakwah). Tentu saja dakwah yang benar yaitu mengajak manusia pada Allah artinya manusia itu taat pada Allah.
Orang yang senantiasa memperbaiki dirinya sendiri disamping ia memikirkan orang lain. Orang yang selalu mengurangi dan memperbaiki cacat yang ada pada dirinya.
Orang yang rendah diri dan merasa tidak berjasa besar terhadap islam. Meskipun sebenarnya dia mempunyai jasa yang besar terhadap Islam. Namun dia hanya mengatakan “Aku adalah sekedar bagian dari kaum muslimin”
Manusia ini adalah manusia yang luar biasa. Allah mengatakan manusia ini adalah manusia yang paling baik perkataanya. Maka sesuailah apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan.
2.Seorang Ahlulsunnah sejati adalah seorang yang mengikuti salaf dalam keyakinan dan mengikuti salaf dari perilaku dan perbuatan. Namun kekurangan yang dimiliki oleh sebagian orang dalam maslah akhlak tidak mengeluarkan seseorang dari ahlulsunnah, tapi menyebabkan kadar ahlulsunnah seseorang berkurang berbanding lulus dengan kecacatannya. Misalnya ada seorang yang pelit dan tidak berbakti pada orang tua bisa jadi dia adalah seorang ahlulsunnah namun ia mempunyai maksiat dalam bentuk tidak berbakti pada orang tua, pelit dan lainnya. Lihatlah perkataan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah di akhir Aqidah Wasitiah setelah menyebutkan pokok-pokok aqidah ahlulsunnah “kemudian mereka ahlulsunnah disamping berpegang dengan prinsip-prinsip aqidah maka mereka adalah orang-orang yang memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mugkar. Sebagaimana kewajiban yang telah dibebankan oleh syari’at. Dan mereka berkeyakinan untuk tetap melaksanakan haji, jihad, sholat jum’at, serta sholat ied bersama para penguasa,ketika penguasa menjadi imam atau mengankat imam maka mereka mengikuti dan rukuk dibelakang penguasa atau imam yang diangkat penguasa baik penguasa yang bertakwa ataupun yang ahli maksiat. Dan mereka adalah orang yang rutin dalam sholat berjamaa’ah. Dan mereka beragama menghendaki kebaikan untuk ummat…”
Maka seseorang bisa keluar dari ahlulsunnah jika
Perkara aqidah yang statusnya pokok yang punya banyak cabang. Ketika seseorang mengatakan saya mengingkari semua sifat Allah maka perkara ini adalah perkara yang mempunyai turunan yang banyak. Sehingga menyebabkan seseorang keluar dari ahlul sunnah.
Perkara Aqidah yang tidak punya turunan yang banyak akan tetapi perkara tersebut adalah perkara yang mahsyur dikalangan para ulama ahlulsunnah sebagai pembeda antara ahlulsunnah atau bukan. Contohnya dalam perkara memberontak kepada penguasa, maka jika orang itu memberontak penguasa maka ia keluar dari ahlulsunnah.
Sehingga perkara akhlak bukan penyebab seseorang keluar dari ahlulsunnah. Boleh jadi orang itu sangat tidak santun terhadap siapa saja sehingga di benci maka kebencian kita bukan penyebab dia keluar dari ahlulsunnah. Namun seseorang itu tidak akan sempurna imannya, dan tidak akan sempurna statusnya statusnya sebagai seorang suni kecuali jika dia tidak menyempurnakan dirinya dengan akhlak-akhlak mulia. Dan ingat sebagian akhlak mulia ada yang hukumnya wajib yang jika ditinggalkan akan mengurangi kadar iman dan hukumnya adalah berdosa.
3.Tujuan mulia yang didorong oleh islam adalah memberi petunjuk agar mereka memegang teguh pada agama ini. Sebagaimana sabda Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasalam saat mengutus Ali bin abi Thalib ke khaibar yang artinya sungguh seandainya Allah memberikan hidayah pada dirimu untuk satu orang saja maka sungguh itu lebih baik daripada unta merah yang demikian mahal harganya. Hikmah dari hadis ini adalah Rasulullloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ali ke Khaibar utuk berperang. Lalu apa hubungannya hadis ini dengan perang? Maka hubungannya adalah diantara adab perang adalah mendakwahkan Islam kepada orang yang diperangi, dan hendaknya harapanmu (baca: Ali) adalah mereka memilih dakwah islam daripada perang. Dan ini adalah lebih baik karena jika engkau menjadi penyebab hidayah satu orang itu lebih baik daripada mendapatkan harta rampasan perang yang banyak. Ingat harta yang banyak itu tidak ada nilainya dibandingkan dengan pahala yang begitu besar yang disebabkan didapatkannya hidayah oleh seseorang. Maka menjadi kewajiban yang Allah berikan kepada mereka berupa anugrah hidayah terhadap sunnah untuk bersemangat dalam mendakwahi orang-orang yang tersesat dalam sunnah agar kembali kepada sunnah.
“Bersabarlah engkau (muhammad) sebagaimana sabarnya ulul azmi diantara para rasul dan janganlah engkau tergesa-gesa (untuk mendapatkan respon positif dari orang yang didakwahi)” (Al-Haqaaf:35)
4.Sepatutnya para penuntut ilmu membedakan anatara dua hal yaitu Al-Mudaarooh dan Al-Mudaahanah. Karena Al-Mudaarooh itu diperintahkan bersikap lembut terhadap manusia dan interaksi yang bagus dan sabar terhadap gangguan agar manusia tidak lari menjauhimu. Sedangkan Al-Mudaahanah tercela, karena berkaitan dengan agama. Allah berfirman yang artinya“mereka berkeinginan seandainya engaku mudaahanah dengan mereka, maka mereka akan bermudaahanah denganmu”(Al-Qalam :9).
Al-mudaahanah adalah orang yang mau mengambil hati manusia namun ada kompromi dalam masalah agama dengan meninggalkan hukum syariat contohnya ada orang yang ingin mengambil hati manusia dengan mengucapkan selamat natal kepada orang nasrani, ada acara bid’ah dia datang agar dapat mengambil hati masyarakat, dll.maka ingat yang diinginkan orang kafir adalah kita bermudaahanah dengan mereka seperti firman Allah dalam surat Al-Qalam diatas. Sedangkan Al-mudaaroonah adalah orang yang mau mengambil hati manusia dengan kompromi maslah dunia contohnya ingin mengambil hati tetangga dengan memberi makan pada tetangga, berlemah lembut, menyapa ketika bertemu dijalan,mengantar anak tetangga yang sakit ke rumah sakit,dll.
Keteguhan dalam memegang teguh agama itu bertolak belakang dari mudaahanah. Teguh dalam beragama itu bukan bertolak belakang dari mudaarooh. Maka bedakanlah antara kedua hal ini!
5.Para da’i dalam mengambil sikap untuk berdakwah boleh mengambil dua metode yaitu metode menarik simpati, motivasi, dan metode hajr (mendiamkan orang lain). Maka hendaknya para da’i dapat mengambil sikap yang benar dan tepat terhadap orang yang akan didakwahi. Jika da’i mengambil sikap berlemah lembut, mengambil hati kepada orang yang seharusnya mereka boikot padanya maka da’i ini adalah termasuk orang-orang yang muqoshirun mufarithun (orang yang tidak sempurna, ceroboh,meremehkan) sedangkan jika da’i ini mengambil sikap hajr kepada seorang yang seharusnya ia berlemah lembut dan mengambil hati, maka da’i ini statusnya munafirun (orang yang menyebabkan orang lain lari dari kebenaran) dan mutasyadidun (keras tidak pada tempatnya).Maka kapan seorang da’i harus bersikap hajr dan kapan bersikap lemah lembut terhadap orang yang didakwahi? Ibnu Taimiyah berkata yang intinya semuanya tergantung dari manfaat yang akan didapat. Ingat Nabi mengambil simpati banyak orang dan bersikap hajr pada sebagian orang.
6.Hajr itu disyariatkan untuk tiga tujuan. Tiga tujuan ini mempunyai banyak dalil dan peneliti serta ulama ahlulsunnah pun juga menegaskannya
Hajr dengan maksud untuk kepentingan orang yang menghajr. Maka dalam hal ini seorang muslim diperbolehkan meninggalkan semua orang yang dia akan mendapatkan bahaya jika dia duduk-duduk bersamanya. Karena orang-orang ini termasuk orang yang menyelisihi sunnah yaitu ahli bid’ah dan ahli ma’siyat. Dalilnya adalah hadist Abu Musa Al-atsary Nabi mengatakan permisalan antara teman yang baik dan teman yang buruk sebagaimana orang yang menjual minyak kasturi dan orang yang meniup al-kiir (alat yang digunakan pandai besi untuk keperluan pekerjaanya). Maka orang yang membawa dan menjual minyak katsury maka boleh jadi dia memberi hadiah padamu dan boleh jadi engkau mendapatinya bau yang harum, sedangkan pandai besi boleh jadi akan membakar pakaian mu dan boleh jadi engkau menjumpai bau yang tidak sedap. Maka hikmahnya adalah Nabi menasehatkan agar bergaul dengan orang-orang yang sholih memiliki manfaat dan bahayanya bergaul dengan orang-orang yang buruk, akan mendapatkan bahaya dalam agama. Sahabat itu menyeret dan menarik dan seorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Hajr dalam bentuk ini bukan dalam bentuk tidak menyapa, tidak bertegursapa, tidak mengucapkan salam tapi tidak mengakrabi orang yang menyimpang.
Hajr demi kemashalatan orang banyak. Maka disyariatkan memboikot seseorang yang dengan memboikotnya akan mendapatkan manfaat bagi banyak orang. Maka hajr yang seperti ini hanya akan terwujud untuk orang yang dikenal ditengah-tengah masyarakat, punya nama, yang menjadi teladan banyak orang. Maka ketika beliau yang keadaannya semacam ini memboikot seseorang karena satu perbuatannya maka akan menjadi pelajaran bagi masyarakat yang lain sehingga orang lain kapok dan tidak ikut-ikutan. Dalilnya adalah saat didatangkan seorang muslim yang punya hutang kepada nabi, maka setelah nabi mengetahui bahwa orang ini punya hutang dan belum dibayar maka nabi tidak mau mensholatinya. Maka hadis ini menjadi pelajaran bagi banyak orang agar tidak suka hutang akhirnya tidak perhitungan dalam mencari utangan dan ujung-ujungnya tidak bisa bayar sampai meninggal dunia. Maka hal ini dibenarkan oleh syari’at.
Hajr dalam rangka memberi manfaat kepada orang yang diboikot/orang yang mempunyai penyimpangan dengan syarat dapat memberikan kemanfaatan untuk mereka dengan meralat dan meninggalkan penyimpangannya dan bertobat darinya. Dalilnya saat nabi menghajr Ka’ab bin malik dan kawannya selama 50 hari sehingga mereka bertobat dan mereka menyesal tidak berangkat jihad tanpa alasan.
Maka hajr yang seperti ini sebagai bentuk teguran untuk orang yang menyimpang dan sebagai hukuman agar sadar kalau perbuatannya salah.
7.Untuk menghajr orang yang menyimpang hendaknya menrenungkan kepentingan orang yang akan dihajr untuk memperbaiki orang yang dihajr. Maka nasehat ke tujuh ini akan menjelaskan kaedah-kaedah dari penelitian para ulama mengenai siapakah orang yang disyari’atkan untuk dihajr dan siapakah orang yang tidak disyari’atkan untuk dihajr meskipun keduanya sama-sama menyimpang. Maka kaedah ini akan melihat beberapa sudut pandang
Kaedah ditinjau dari pelaku hajr (orang yang menghajr)
maka disyari’atkan orang ini adalah orang yang kuat, dan memberikan pengaruh. Artinya hajr yang diberikan akan menjadi pelajaran bagi orang yang menyimpang. Hal ini berlaku jika maksud hajr untuk mendidik orang yang menyimpang. Adapun jika maksudnya untuk menimbang mashlahat orang yang melakukan hajr karena merasa khawatir mendapatkan bahaya agama jika bergaul dengan orang yang menyimpang maka syarat diatas tidaklah berlaku. Maka wajib baginya untuk tidak bergaul dan tidak dekat-dekat dengan orang tersebut.
Kaedah ditinjau dari orang yang memiliki penyimpangan (orang yang dihajr)
orang yang dihajr bisa mengambil manfaat dari hajr dan mengembalikan dirinya pda kebenaran. Adapun jika ia tidak bisa mengambil manfaat dari adanya hajr maka hajr dalam masalah ini hajr tidak dituntunkan. Sehingga dalam hal ini menarik simpati adalah hal yang paling dibenarkan.
Berkaitan dengan jenis penyimpangan.
Tidak ada kaedah bakunya. Hajr itu berlaku untuk bid’ah dan m’aashiyat. Semua jenis penyimpangan walaupun itu remeh maka bisa dihajr dengan syarat orang yang dihajr dapat mengambil manfaat dengan hajr yang akan ditujukan padanya. Maka tidak ada pertimbangan dalam melihat besar kecilnya penyimpangan.
Syarat yang berkaitan dengan zaman dan tempat terjadinya penyimpangan. Maka jika yang dominan (zaman dan tempat) itu milik ahlulsunnah maka disyariatkan hajr dengan memperhatikan kaedah-kaedah yang lain. Karena orang yang menyimpang posisinya lemah, dan pelajaran bisa terwujud dari hajr. Seperti hajr yang dilakukan nabi kepada ka’ab bin malik dan temannya atau hajrnya Umar bin khattab kepada Shobiigh ibnu ‘asl.
Jangka waktu hajr. Sepatutnya hajr itu cocok bagi orang yang menyimpang dan jenis penyimpangannya, maka jika maksud dari hajr sudah terwujud maka hajr wajib dihentikan. Demikian pula jika jangka hajr kurang dari waktu yang cocok maka hajr jadi tidak bermanfaat. Disyariatkan menghajr orang yang menyimpang yang dilakukan oleh penguasa, ulama tau tokoh yang ditaati.
Ibnul Qayyim dalam zadul ma’ad mengatakan bahwa hajr adalah obat, sehingga yang namanya obat tidak boleh diberikan secara overdosis untuk menyembuhkan seseorang. Maka hajr-hajr yang tidak pada tempatnya akan memperparah keadaan dari suatu perpecahan.
8.Rambu-rambu dalam membantah orang yang menyimpang atau yang biasa disebut dengan tadzhir.
Hendaknya dilakukan dengan ikhlas dan niat yang benar murni semata-maa untuk membela kebenaran dan obyektif dalam membela kebenaran. Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan i’tiba. Maka syarat pertama adalah ikhlas sedang kaedah lain adalah i’tiba. Maksud dari tadzir adalah kembali pada kebenaran dan mendapatkan hidayah. Maka hendaknya ia menggunakan cara-cara yang mengambil hati orang yang menyimpang dan menghindari cara-cara yang membuat orang lain lari dari kebenaran.
Hendaknya bantahan tersebut dilakukan oleh seorang yang punya ilmu yang dalam dengan agamanya. Sehingga ia mengerti tentang berbagai sisi dari masalah ini, dan ia juga tahu seberapa jauh penyimpangan lawan, dan sebab kerancuan pikiran lawan dan perkataan ulama karena kerancuan ini dan mengambil faedah dari pada ulama dalam kerancuan masalah ini.
Hendaklah memperhatikan perbedaan orang-orang yang menyimpang (dilihat dari tingkatan penyimpangan),kedudukan dan posisi orang yang menyimpang didunia atau diakhirat (status sosial, kehormatan, ustadz,dll), faktor pendorong yang mendorong orang tersebut untuk melakukan penyimpangan dari kebenaran (apakah kebutuhan, sengaja berbuat bid’ah atau karena tidak bisa berbahasa, ), salah ucap (keceplosan, salah ketik), pengetahuan yang terbatas (belum punya ilmu), salah paham, atau faktor-faktor yang lain yang mendorong terjadinya penyimpangan dari aturan syari’at. Maka siapa yang tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan ini dalam membuat bantahan akan menyebabkan kurangnya manfaat dari bantahannya atau orang yang menyimpang tidak dapat mengambil apa yang dimaksudkan.
Hendaklah memperhatikan upaya untuk mewujudkan mashlahat syar’i dari bantahan. Maka jika memberikan bantahan dilihat bahayanya lebih besar, maka tidak disyari’atkan dalam membuat bantahan seperti ini. Syeikhul islam ibnu taimiyah berkata ”Tidak diperbolehkan mencegah kerusakan yang sedikit dengan menimbulkan bahaya yang lebih besar. Sesungguhnya syari’at itu mewujudkan mashlahat murni atau menyempurnakan mashlahat, meniadakan keburukan sama sekali atau meminimalisir keburukan semaksimal mungkin.”
Tidak perlu membahas suatu penyimpangan didaerah yang orang belum pernah mendengarnya. Sebuah kesesatan yang ada di Kalimantan, tidak perlu idbahas di Yogyakarta. Penyimpangan dibahas di daerah tempat penyimpangan itu berasal.
Tidak perlu menyebarluaskan bantahan dari suatu penyimpangan.
Membuat kritik atau bantahan pada person itu hukumnya fardhu kifayah. Maka jika sudah ada ulama yang mentadzir, maka gugurlah kewajiban ulama yang lainnya.
Maksud dari tadzir adalah agar orangyang ditadzir tidak melakukan kesalahan yang sama.
9.Kesalahan dalam aqidah itu mungkin terjadi maka jika dalam masalah aqidah yang detail dan jelimet maka akan dimaafkan. Jika bukan karena kaedah ini maka binasalah semua ulama ahlulsunnah. Jika Allah memaafkan orang yang tidak tahu kalau khomer itu haram padahal orang ini tumbuh besar yang penuh dengan kebodohan dalam agama padahal orang ini juga tidak memiliki ilmu, ceroboh dalam menuntut ilmu maka dimaafkan. Maka orang yang memiliki keistinewaan dalam agama ini, dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan kebenaran maka jika maksud hatinya mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semaksimal kemampuan yang ia miliki maka orang ini lebih berhak dan lebih layak jika Allah subhanahu wa ta’alla menerima kebaikannya, dan memberi pahala ijtihadnya, dan Allah tidak menghukum kesalahan yang dia lakukan tanpa sengaja.
Penjelasan ini bukan bearti tidak boleh memberikan nasehat dari orang yang berilmu jika dia keliru. Akan tetapi wajib atas orang yang tahu akan kekeliruannya. Bahkan merupakan berbuat baik padanya dan menghendaki kebaikan pada orang lain. Maka teguran ini juga harus dengan lemah lembut dan gaya bahasa yang sesuai dengan ilmu dan kedudukan yang ia miliki. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya “posisikan manusia sesuai dengan kedudukannya”
Maka jika ulama tersebut meralat kekeliruannya dan membenarkannya maka hendaklah diterima ralatnya dan tidak boleh setelah itu beliau masih saja dibicarakan dan tidak boleh dicela atas kesalahan yang pernah ia lakukan. Maka jika ia tidak meralat kekeliruannya karena adanya syubhat yang menghalangi beliau dari kebenaran maka dilihat jenis kesalahannya. Maka jika itu untuk diri beliau pribada, maka tangung jawab kita telah gugur setelah kita nasehati 4 mata. Namun jika kesalahan itu bukan untuk diri beliau semata tapi tersebar luas maka hendaknya manusia diingatkan atas kesalahan tersebut. Manusia maksudnya orang-orang yang mengetahui permasalahan tersebut. Maka kita tidak mentadzir orangnya tapi hanya mentadzir kesalahannya karena ulama ini adalah ahlulsunnah. Berbeda jika orangh ini adalah ahlul bid’ah yang mengajar pada kesesatan maka harus ditadzir orangya. Maka orang yang mengetahui kesalahan tadi harus menjaga dua landasan penting (prinsip yang harus dipegang teguh):
Objektif terhadap kebenaran. Benar katakan benar meskipun berasal dari orang yang kita benci dan salah katakan salah meskipun berasal dari orang yang kita cintai.
Menjaga kedudukan ulama.
10.Ahli bid’ah yang menyelisishi aqidah ahlulsunnah dalam berdalil dan dakwah dan mengikuti hawa nafsu (tahu kebenaran namun dengan secara senagaja meninggalkan kebenaran tanpa dalil) bahkan meereka melecehkan ulama dan mengutamakan tokoh-tokoh bid’ah dibandingkan para ulama. Maka mereka adalah ahli bid’ah orang yang sesat dan hendaknya kita berjihad untuk mengingatkan manusia bahwa jeleknya jalan mereka dalam beragama dan penyimpangan mereka dalam sunnah dan membantah syubhat-syubhat mereka. Dan menyikapi mereka dengan sikap yang ditunjukkan pada ahli bid’ah pada semua keadaan. Maka ini tidak menghalangi kita untuk mendakwahi mereka kepada kebenaran.
11.Beberapa arahan yang indah dan faedah-daedah ilmiah yang sangat bernilai dari Syekh Ibrahim di akhir nasehatnya pada para thulabul ‘ilmi. Beliau berkata jika mengamalkan faedah ini lebih besar pahalanya dan menyebabkan derajat orang yang melakukannya lebih tinggi disisi Allah. Faedah tersebut adalah :
Ketahuilah wahai saudaraku ahlulsunnah. Jika engakau benar-benar ahlulsunnah maka tidak akan membahayakanmu tipu daya penduduk bumi untukmu dan tidak akan mengeluaarkanmu pada ahlulsunnahtuduhan mereka kepadamu dengan mengatakanmu mubtadi’ hizbi. Namun jika engkau berada pada penyimpangan dan kesesatan maka tidaklah bermanfaat bagimu disisi Allah pujian seluruh manusia padamu. Demikian pula tidak bermanfaat pula pengakuan mereka terhadapmu sebagai ahlulsunnah. Maka hindarilah usaha menipu diri sendiri. Dan cukuplah bagimu nasehat nabi kepada ibnu abbas “kalau seandainya manusia berkumpul untuk membahayakanmu,maka itu tidak akan membahayakanmu kecuali bila Allah mentakdirkanmu untuk itu.” Demikian juga nasehat mengenai hadis tentang tiga orang yang menjadi bahan bakar dihari kiamat yaitu seorang yang belajar agar disebut alim, demikian pula orang yang belajar sunnah agar disebut ahlulsunnah. Maka orang ini adalah orang yang pertama kali menjadi bahan bakar api neraka.
Ketahuilah bahwa ulama ahlulsunnah yang kokoh, sebetulnya mereka sampai derajat sebagaimana derajat yang mereka dapat karena Allah beri taufik pada mereka agar yakin dan bersabar. Sebagaimana firman Allah dalam surat As-Sajadah:24. Maka dengan sabar dan yakin diperolehlah status teladan dalam agama. Dan sabar dalam menuntut ilmu artinya adalah kesungguhan dalam menuntut ilmu bersamaan dengan mengamalkan ilmudan menyibukkan waktunya sepanjang siang dan malam untuk menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu. Berbeda dengan orang-orang yang lemah sikap mereka, mereka cenderung kepada santai dan dia biarkan dirinya untuk mengikuti keinginan hawa nafsunya maka dia tidak punya semangat dalam mengamalkan ilmu dan tidak pula punya ketaatan dalam mengamalkan ilmu.
Ketahuilah jangan memvonis orang lain sebagai mubtadi’,fasik,kafir dan orang tersebut tidak berhak dalam mendapatkan vonis-vonis itu semua. Meskipun ada orang lain yang menilaimu sebagai kafir, mubtadi’, fasik maka janganlah ini menjadi alasan untuk menuduh orang lain sebagai mubtadi’,fasik dan kafir. Ingatlah bukanlah syarat sah dari ahlulsunnah adalah maksum dari kesalahan.
Janganlah engkau memboikot orang yang memboikotmu. Padahal dia adalah saudaramu dalam agama jika memboikot orang itu tidak disyariatkan. Maka yang harus kita lakukan adalah dahuluilah untuk mengucapkan salam, dan bersikaplah lemah lembut dan ambil hatinya jika ia mau duduk maka hilangkan darinya salah paham dan syubhat. Namun jika ia memalingkan muka janganlah engkau berkeyakinan untuk memboikotnya dengan hatimu dan janganlah engkau membalasnya.Maka engkau akan terbebas dari hukuman dan dialah yang akan mendapatkan hukuman.
Menghadapi celaan yang dilontarkan pada dirimu, maka engkau dapat menyikapinya dengan sikap berikut:
1.jika celaan yang engkau dapat adalah celaan yang mencela dirimu sendiri semacam orang yang menyelisihimu mengatakan engkau bodoh, engaku tidak paham maka janganlah engkau melakukan pembelaan terhadap dirimu. Karena jika engkau membela dirimu maka engkau akan terjerumus kedalam suatu dosa yaitu mengunggul-unggulkan dirimu dan dalam hal ini terdapat kecelakaan yang nyata. Maka jika dikatakan padamu kau bodoh maka katakanlah saya memang bodoh, tuduhanmu pada diriku tak jauh dari kebenaran, banyak yang belum dipahami, doakan agar kebodohan dalam diri saya semakin hari semakin berkurang.
2.Jika orang yang menyelisihimu menisbatkan dirimu pada kebathilan dengan perkataan yang bathil semacam “fulan adalah orang yang mencela sahabat misalnya” dan dia menisbatkan padamu suatu pendapat yang engkau tidak pernah mengatakan padanya. Maka belalah diriimu.
Ketahuilah manusia itu agung disebabkan amal yang dia lakukan. Maka jika engkau berada diatas sunnah maka tiap hari akan bertambah agung diatas sunnah dan setelah beberapa hari lamanya, hingga engkau akan menjadi teladan didalam sunnah seperti firman Allah dalam surat As-sajadah 24. Dan jika engkau berada dalam bid’ah maka engkau akan menjadi orang yang agung dalam bid’ah. Dan tidak akan lama sampai akhirnay engkau menhadi teladan dalam bid’ah dan hal ini sudah Allah firmankan dalam surat Maryam ayat 75. Maka pilihlah untuk dirmu amal apa yang akan kau lakukan hari ini, yang engkau inginkan engkau menjadi imam suatu hari nanti.

Demikianlah nasehat yang kami rangkum dari buku kecil yang sangat besar faedahnya yang berjudul “Nasehat mengenai perkara-perkara yang wajib diperhatikan ketika terjadi perbedaan pendapat di antara ahlulsunnah dan faedah-faedah boikot dan membuat bantahan terhadap orang-orang yang menyimpang ” karya Syekh Ibrahim bin ‘aamir ar-rahiily. Semoga Allah beri taufik untuk mengamalkan ilmu yang telah sampai pada kita. Wallahul musta’aan.

Advertisements
Tagged with: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: